Senin, 26 Oktober 2015

Sejarah Nama Indonesia

Sejarah Asal-usul Nama Indonesia

Kata orang apalah arti nama. Ya, apa artinya nama? Apakh pada akhirnya nama memang sesuatu yang benar-benar ‘unik’, yang dapat membedakan ‘kita’ dengan ‘yang lain’? Nah, kalau sama terus kenapa? Dan kalau beda, memang mau apa?
Pertanyaan itu mungkin bisa kita renungkan bersama. Walaupun perkara ‘nama’ ini kelihatannya sederhana tetapi sebenarnya ada “politik identitas” yang termuat di dalamnnya loh… Aduh, hari gini masih ngomong politik? Enggak banget ya?! Eits, tenang… Politik identitas ini punya definisi yang beda dari politik kekuasan. Nah, sebelum kita masuk ke “politik identitas” itu kita pelajari dulu yuk asal-usul nama Indonesia…
Sebelum kedatangan bangsa Eropa
PADA zaman purba kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai atau Kepulauan Laut Selatan. Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini DwipantaraKepulauan Tanah Seberang, nama yang diturunkan dari kata Sansekerta,dwipa, yang berarti pulau dan antara yang berarti luar atau seberang.
Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Ramayang diculik Ravana, sampai ke SuwarnadwipaPulau Emas, yaitu Sumatra (sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-JawiKepulauan Jawa. Nama Latin untuk kemenyan adalahbenzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra.
Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab, bahkan bagi orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Para pedagang di Pasar Seng, Mekkah menyebut, “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi” atau “Sumatra, Sulawesi , Sunda, semuanya Jawa”.
Masa kedatangan Bangsa Eropa
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia . Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan jika Asia hanya terdiri dari Arab, Persia , India , dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah Hindia. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”, sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies , Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische Archipel, Malay Archipelago , l’Archipel Malais).
Ketika tanah ini dijajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch- Indie atau Hindia Belanda, sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah Hindia Timur atau To-Indo.
Berbagai Usulan Nama
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan namayang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung , Insulinde mungkin hanya dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “ India ”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 Lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kata-kata ini sendiri termuat dalam Sumpah Palapa yang dikumandangkan Gajah Mada, ”Lamun huwus kalah Nuswantara, isun amukti palapa”“jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat”. Oleh Dr. Setiabudi katanusantara zaman Majapahit tersebut diberi pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi Nusantara yang modern. Istilah Nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda. Sampai hari ini istilah Nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Lalu dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul?
Nama Indonesia
Tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.” Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas, a distinctive name, sebab nama Hindia Tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama, Indunesia atau Malayunesia, nesos, dalam bahasa Yunani berarti Pulau. Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis, “… the inhabitants of the Indian Archipelago or malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.”

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia, Kepulauan Melayu, daripada Indunesia atau Kepulauan Hindia, sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago, Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan ini, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan,“Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia , which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.”Ketika mengusulkan nama Indonesia agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan bukuIndonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918.
Putra pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan namaIndonesische Pers-bureau.
Masa Kebangkitan Nasional: Makna politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama Indonesia yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda, yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging, berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Dalam satu tulisannya Bung Hatta menegaskan, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut Hindia Belanda. Juga tidak Hindia saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.“
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij).
Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia. Akhirnya nama Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad, Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardji Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah namun masukkanya Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 membuat Hindia Belanda ‘lenyap’ dan pada akhirnya tergantikan dengan Republik Indonesia.

Jumat, 31 Juli 2015

Ets 2 mods

Halo Bagi Para Agan yang suka main Game Euro Truck Simulator 2 Nih ane punya mod mod nya Buka Aja
http://ets2.lt/en/?s=  , Nanti agan cari mod yang agan suka trus download jangan lupa buat liat itu mod buat version berapa...   klo nggak agan liat nanti mod nya bakal ngecrash sama game nyaa...

Itu aja yang mau ane sampein buat para agan yang suka ets 2....

Kamis, 18 September 2014

Berita : Gagal di MK dan PTUN, Prabowo gugat KPU ke MA

 Hasil putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) belum membuat puasPrabowo Subianto. Setelah kalah di MK dan PTUN, Prabowo kini resmi mengajukan gugatan ke Mahmakah Agung.

Dilansir dari situs resmi mahkamahagung.go.id, Senin (15/9), Prabowo sebagai pemohon mengajukan gugatan ke MA dengan pihak termohon Komisi Pemilihan Umum (KPU). Gugatan Prabowo ini tercatat dengan Nomor Register 53 P/HUM/2014.

Tim hukum Prabowo mengajukan gugatan pada 11 Agustus 2014. Saat ini proses gugatan dalam proses pemeriksaan oleh Tim C MA.

Sebelumnya, setelah kalah di MK, kubu Prabowo sempat mengajukan gugatan ke PTUN. Hasilnya, gugatan Prabowo tetap ditolak.

"Menimbang bahwa yang menjadi objek sengketa dan dimohonkan untuk dinyatakan batal atau tidak sah oleh para penggugat. Di dalam gugatannya adalah surat ketua KPU No 959/UND/VIII/2014 tertanggal 21 Juli 2014. Bersifat segera, perihal: Undangan penetapan rekapitulasi hasil perhitungan suara dan penetapan pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih hasil pemilu 2014. Gugatan nyata-nyata tidak termasuk dalam kewenangan absolut pengadilan PTUN," kata Majelis Hakim Hendro Puspito saat membacakan putusan beberapa waktu lalu.

By : Abdurrahman Zuhdi AL Hakim

Berita : Bandara Atas Air Harus Didesain Ulang Akibat Salah Konstruksi

Bandara Atas Air Harus Didesain Ulang Akibat Salah Konstruksi

     
  •  kamis 18 Sep 2014 

Bandara Ahmad Yani
(Foto: Angkasa Pura)

Liputan6.com, Semarang - Keinginan Kota Semarang segera menyelesaikan pembangunanBandara Ahmad Yani,  tak bisa terwujud dalam waktu dekat ini.
Pasalnya, dalam penyelidikan tanah ditemukan adanya perbedaan lapisan tanah untuk pendukung konstruksi. Hal itu menyebabkan pembangunan bandara tersebut harus mengalami desain ulang.
General Manager (GM) PT Angkasa Pura I Bandara Ahmad Yani, Priyo Jatmiko, mengatakan perubahan metode penguatan tanah menyebabkan penggantian material yang sebelumnya batu diganti menjadi tanah.

"Perbaikan kontur tanah ini berakibat pada waktu pengerjaan pembangunan bandara yang semakin lama. Meski demikian, saat ini kami sudah mulai melakukan pengerjaan fisik. Saat ini yang sedang dilaksanakan adalah pembuatan tanggul atas bandara guna pemasangan pagar perimeter," kata Priyo di Semarang, Kamis (18/9/2014).

Priyo mengaku pihaknya berupaya agar proses desain ulang bandara dengan pekerjaan fisik berjalan paralel dengan tujuan untuk mengefektifkan waktu.

"Kami juga mulai melakukan pekerjaan fisik dengan menggunakan alat berat yang sudah ada di sana," tutur dia. 

Selanjutnya, pekerjaan fisik konstruksi bisa dilaksanakan setelah proses pengerukan dan pemadatan tanah di Bandara Ahmad Yani ini selesai. Untuk proses pengurukan sendiri, tanah yang dibutuhkan sebanyak 400 ribu meter kubik, selain tanah dibutuhkan juga material pasir karena berguna untuk kekuatan konstruksi bangunan.

"Harapannya pembangunan bandara berjalan lancar, baik itu pengerjaan fisik maupun proses redesain. Saat ini cuaca Alhamdulillah juga mendukung proses pengerjaan Bandara Ahmad Yaniini," tandas dia. 

By : Abdurrahman ZUhdi AL Hakim

Sabtu, 13 September 2014

Cara Mengetahui Nama Dengan Berbagai Bahasa Yang Menarik

Cara mengetahui Nama Nama Asing Kalian

1. Buka Blog : http://bebekdanbajaj.blogspot.com/2010/12/cara-mengubah-nama-kalian-jadi-versi.html

2. Pilih bahasa yang kalian inginkan
Contoh : Abdurrahman Hakim Nama Inggrisnya Terrance Cavendish

Terima Kasih Semoga Suka Dan Ngomen

Thanks gan

Kamis, 11 September 2014

Tentang Daarud Tauhid

Wakaf Daarut Tauhiid : 

Jl. Gegerkalong Girang No. 67 Bandung
Telp. (022) 200 6655 
Fax. (022) 200 3807
Email : pusbang.wakaf@gmail.com 

Komunitas Cinta Wakaf :

Ketik Nama#Alamat Lkap#Nominal Wakaf
Kirim ke: 085 200 123 123


No.Rekening a.n Yayasan Daarut Tauhid :

BNI Syariah No. 83003.83006
Mandiri No. 13200.1009.5959
BNI No. 82002.82002



Sabtu, 30 Agustus 2014

10 Lokasi Yang Dianggap Angker


1. Tanjakan Emen Kabupaten Bandung 
Seringnya terjadi kecelakan lalu lintas yang memakan korban jiwa di kawasan Tanjakan Emen sepertinya cukup membuat banyak orang berpikir bahwa daerah ini menjadi berhantu. Sehingga menurut mitos yang beredar, kamu harus melempar 2 batang rokok ke pinggir jalan kalau tidak ingin mengalami kejadian seram saat melintasi daerah ini. Beberapa orang yang tak melempar rokok mengalami kejadian aneh seperti kendaraan yang mendadak mogok dan melihat sosok penampakan hantu anak kecil. Well, boleh percaya atau tidak.
2. SMA 5 Bandung 
SMA 5 Bandung
SMA 5 Bandung adalah salah satu SMA favorit di Bandung yang terletak di jalan Belitung no.8 Bandung. Sama seperti kebanyakan gedung SMA di Indonesia yang merupakan bangunan masa lalu, SMA 5 Bandung juga masih berdiri tegak meski dibangun saat jaman kolonial belanda. Disebutkan ada tiga jendela di sekolah ini yang selalu terbuka. Tak hanya itu, mitos setempat percaya kalau kamu yang mencoba memutari bangunan ini sebanyak 3 kali akan melihat hantu perempuan Belanda yang muncul di jendela itu. Konon katanya sosok hantu perempuan Belanda yang bernama Nancy tersebut melakukan bunuh diri di sekolah itu.
3. Jalan Cipaganti Bandung 
Jalan Cipaganti Bandung
Sebagai salah satu jalan lalu lintas terpadat, jalan Cipaganti memang ramai oleh hilir mudik kendaraan baik siang dan malam. Namun cerita misteri menyebutkan bahwa sering terlihat penampakan hantu pria tanpa kepala dengan baju pendekar jaman dulu yang muncul sekitar pukul 01.00 dini hari. Penasaran? Silahkan kamu melewati jalan ini pada jam tersebut. Bukan kebetulan pula jika salah sati radio terkemuka di Bandung yakni radio Ardan yang sering menayangkan program cerita misteri Nightmare Side terletak di daerah ini.
4. Patung H.C.Verbraak di Taman Maluku.
Patung H.C.Verbraak di Taman Maluku
Bagi kamu warga Bandung pasti mengetahui cerita sosok H.C.Verbraak. Verbraak disebutkan sebagai pastor asal Belanda yang bertugas di Aceh pada tahun 1870 silam serta kawasan Indonesia lainnya. Verbraak meninggal di lokasi monumen tersebut berdiri karena kecelakaan pesawat, sehingga pusara makamnya diletakkan di bawah patung tersebut. Nah, kisah angker muncul ketika beberapa warga sering melihat patung perunggu legam setinggi 4 meter itu bisa bergerak sendiri. Hiiy, percaya?
5. Rumah Ambulance, Jalan Bahureksa No.15 
Rumah Ambulance, Jalan Bahureksa No.15
Pernah menonton film HANTU AMBULANCE? Film yang dibintangi Suzanna itu rupanya terinspirasi dari sebuah rumah di Bandung ini. Di halaman rumah tersebut terparkir sebuah mobil ambulance tua yang tertutup. Kejadian horor terjadi saat penutup mobil ambulance ini dibuka, seorang kru kerasukan dan bohlam lampu kamera menjadi pecah. Tapi kisah lain muncul justru menyebutkan bahwa ini adalah bekas rumah kos yang dijadikan tempat prostitusi dengan kisah hantu ambulance untuk mengelabui warga. Saat ini rumah ambulance tersebut sudah menjadi distro.
6. Pohon di Jalan Siliwangi 
Pohon di Jalan Siliwangi
Mitos menyebutkan bahwa di jalan Babakan Siliwangi ini pernah ada anak kecil yang tertabrak di depan pohon sehingga meninggal. Warga percaya agar arwah anak itu tidak mengganggu, pohon tersebut diberi boneka yang digantungkan di rantingnya. Bahkan ada cerita beredar jika sosok hantu berbentuk boneka melayang di tengah jalan. Disebutkan gadis yang meninggal itu bernama Uci lantaran tabrak lari pada tahun 1981. Tak cukup itu saja, cerita lain menyebutkan ada sosok hantu perempuan membawa boneka dengan muka hancur muncul di sana. Hmm, lebih baik kamu coba sendiri ke sana ya untuk membuktikan.
7. Taman IR.H juanda (Dago Pakar) 
Taman IR.H juanda (Dago Pakar)
Kawasan Dago Pakar terkenal dengan dua buah gua di sana yakni gua Jepang dan Belanda. Mitos percaya bahwa di daerah itu dilarang menyebutkan kata Lada, kata dalam bahasa Sunda yang berarti pedas. Kamu boleh percaya atau tidak, namun warga sekitar sering melihat penampakan hantu prajurit masa penjajahan di sini. Tak heran karena kedua gua tersebut menjadi tempat pembantaian prajurit. Lokasi berhantu selalu muncul dari cerita-cerita kematian tak wajar, bukan?
8. ITB Bandung 
ITB Bandung
Bangunan lama selalu membawa kesan angker. Itu pula yang dialami oleh Institut Teknologi Bandung (ITB). Didirikan pada 3 Juli 1920, ITB seringkali memiliki kisah-kisah horor yang diceritakan turun temurun dari generasi mahasiswa selama 93 tahun berdiri. Beberapa yang terkenal adalah sosok hantu muka rata di Aula Barat dan sosok hantu yang terjatuh dari lantai atas gedung PAU dalam kondisi hancur. Adakah mahasiswa ITB yang memiliki cerita horor lain?
9. Jalan Tamansari (Depan ITB ) 
Jalan Tamansari (Depan ITB )
Saat siang hari, jalan Tamansari ini ramai dilintasi kendaraan, namun berubah menjadi angker saat malam. Terutama karena kurangnya penerangan di sini, sehingga kesan sepi semakin terasa. Warga Bandung percaya bahwa kalau kamu melintasi daerah ini di malam hari jangan sendirian, kenapa demikian? Kalau kamu sendirian maka kamu akan ditemani oleh sosok hantu wanita. Berani mencoba?
10. Museum Pos Indonesia Bandung 
Museum Pos Indonesia Bandung
Museum Pos Indonesia di Bandung terletak di belakang Gedung Sate. Melihat bentuk bangunan dan nama museum saja sudah pasti membuat lokasi ini terkesan menyeramkan meski di siang hari. Ada yang menyebutkan bahwa ruang bawah tanah gedung ini dengan patung-patung yang ada jika diperhatikan seakan menatap ke pengunjung. Belum lagi cerita bahwa patung itu bisa hidup di malam hari. Tak percaya? Yah, cobalah kamu berkunjung ke sini di malam hari lalu ceritakan pada kami.
 
BY Abdurrahman ZUhdi AL Hakim